Selamat Datang di Website Resmi MI Krandegan 1

.

SELAMAT DAN SUKSES ATAS DINOBATKANNYA BAPAK MOHIB ASRORI, S.Pd.I, MSI SEBAGAI TERBAIK II ANUGERAH KONSTITUSI TAHUN 2013 TINGKAT JAWA TIMUR

02 Februari 2014

Program Sertifikasi Belum Mampu Angkat Kualitas Pendidikan

Kualitas pendidikan di Kabupaten Pekalongan, masih tertinggal. Bupati Pekalongan, Amat Antono mengaku prihatin dengan kondisi seperti ini. 

''Program sertifikasi yang diberikan pada tenaga pendidik, ternyata belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Pekalongan,'' kata Bupati saat melantik pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Pekalongan masa bakti 2013-2018, Senin (27/1).

Indikasi masih rendahnya kualitas di Kabupaten Pekalongan ini, menurut Bupati, dapat dilihat dari masih tertinggalnya capaian Nilai Ebtanas Murni (NEM) siswa di semua tingkat pendidikan. Contohnya, seperti peringkat NEM pada tahu 2013.

Untuk jenjang pendidikan SD, peringkat NEM yang diraih lulusan SD Kabupaten Pekalongan masih menduduki ranking ke-27 dari 35 kabupaten/kota se-Jateng. Untuk SMP, hanya menduduki peringkat ke-31 dari 35 kabupaten. Sedangkan untuk jenjang SMA, hanya menduduki peringkat 25. ''Hanya NEM lulusan SMK yang sudah lumayan, bisa menduduki peringkat ke-18 dari 35 kabupaten.'' jelasnya.

Untuk itu, terhadap pengurus Dewan Pendidikan yang baru, dia meminta lembaga itu melakukan pengkajian, apakah seseorang guru layak mendapatkan tunjangan sertifikasi bila ternyata tidak mampu meningkatkan prestasi anak didiknya. ''Untuk itu, saya berharap nantinya dewan pendidikan bisa memberikan solusi yang baik dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Pekalongan,'' katanya.

Sementara mengenai kebijakan pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SD yang pada tahun 2014 ini diserahkan pada pemerintah daerah, Bupati juga meminta agar Dewan Pendidikan membantu pemikiran mengenai soal biaya APBD yang harus disediakan. ''Hal ini karena  APBD 2014 sudah diputuskan, sehingga perlu ada kebijakan khusus agar pelaksanaan UN SD tidak terganggu,'' katanya.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Pekalongan, Harunjuri, dalam laporannya meminta dukungan semua pihak agar mampu melaksanakan pengabdian sesuai tugas pokok dan fungsi Dewan Pendidikan dengan jujur, amanat, menyampaikan kebenaran dan cerdas.

''Tanpa dukungan dan kerja sama semua pihak, maka program kerja kami tidak akan terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, kami mohon saran dan masukannya dalam rangka memajukan pendidikan di Kabupaten Pekalongan,'' katanya.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/14/01/27/n01zdb-program-sertifikasi-belum-mampu-angkat-kualitas-pendidikan

Kurikulum 2013 Dinilai Refleksi dari Sekolah Islam Terpadu

Kurikulum 2013 (ilustrasi)
Metode pembelajaran di sekolah Islam Terpadu dinilai sesuai kurikulum 2013 sebab selain menilai aspek akademik, sekolah Islam terpadu juga menekankan pentingnya aspek sikap para siswa.
Dalam acara Milad ke 10 Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), Sabtu (1/2), Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan kurikulum 2013 mereflesikan apa yang sudah dilakukan JSIT sebelumnya. Melalui JSIT Musliar  berharap kurikulum 2013 bisa lebih menggaung.

Kurikulum lama, lanjut Musliar, hanya sampai pada memberi pengetahuan, belum sampai pada pembekalan keterampilan dan sikap. Hanya dua mata pelajaran yang bisa membantu membangun sikap, PKN dan agama. Dalam kurikulum 2013, semua mata pelajaran harus bisa membangun sikap anak-anak.

Musliar mengungkapkan di kurikulun lama, 12 tahun anka-anak belajar menggambar. Tapi tak ada yang berhasil jadi seniman hebat dan berpenghasilan dari melukis kecuali setelah belajar di universitas, ikut dalam sanggar atau keluarganya pelukis. Bahkan pelajaran olahraga pun bisa digunakan untuk membangun sikap anak-anak.

Perubahan model kurikulum diakuinya harus didukung pemahaman yang baik oleh guru. ''Pada 2013 sudah dilakukan pelatihan terhadap 6.213 sekolah oleh pemerintah. Guru tidak membayar sama sekali dan buku panduan kurikulum 2013 pun disediakan,'' ungkap mantan Rektor Universitas Andalas Padang itu.

Begitupula dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang difasilitasi melalui sekolah inklusi. Akan ada panduan untuk mereka dengan tetap menggunakan model kurikulum 2013. 

Kendati sempat dihujat pada masa awal pemberlakuannya, Musliar mengklaim sampai saat ini belum ada yang mengatakan kurikulum 2013 tidak bagus, kecuali orang-orang yang memang tidak senang.

''Kurikulum 2013 ingin menghasilkan generasi yang produktif, kreatif, afektif. Generasi ini harus memiliki tiga kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Ini tidak bisa terwujud tanpa penataan kurikulum,'' tutur Musliar.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/14/02/01/n0b2sc-kurikulum-2013-dinilai-refleksi-dari-sekolah-islam-terpadu#comments-list

Urgensi Boarding School Bagi Pendidikan Karakter Anak Madrasah

Memasuki abad ke 21, kita seperti sedang disuguhi tontonan perlombaanyang diikuti oleh bangsa-bangsa di dunia dalam rangka pengembangan berbagai teknologi strategis di era globalisasi. Kemudian tontonan beralih pada perubahan budaya, gaya hidup dan perilaku yang sangat drastis di negara kita, sebagai dampak dari perkembangan teknologi. Terutama budaya ketimuran (Islami) yang semakin terjepit oleh budaya Barat, dikemas dalam beragam media dan cara, serta mengikis sekat-sekat budaya, geografis, dan ideologi sebuah negara. Ketidakstabilan keadaan yang selama ini juga melanda Indonesia, cukup mengganggu proses belajar mengajar di Indonesia, terutama dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga berpotensi mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa mendatang. Padahal kita tahu, tantangan dalam menghadapi era globalisasi adalah dengan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia melalui SDM yang berkualitas.
Dengan melihat kondisi tersebut maka dirasa perlu dilakukan suatu upaya antisipasi dengan melakukan perbaikan sistim pendidikan, yaitu pendidikan berkarakter.Visi pendidikan nasional yaitu, ”mencerdaskan kehidupan bangsa yang bermoral dan berakhlak” mengandung implikasi bahwa penyelenggaraan pendidikan haruslah mampu memadukan pendidikan ilmiah dengan pendidikan moral dan akhlak. Nilai-nilai agama adalah nilai-nilai universal yang dapat diimplementasikan dalam segala bidang. Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang memiliki nilai-nilai luhur yang ajarannya bersifat menyeluruh, melingkupi semua bidang kehidupan manusia menjadi alternatif pilihan terbaik untuk dijadikan landasan pengembangan sistim pendidikan.
Berkaitan dengan pola pandang di atas, ada dua fenomena menarik dalam dunia pendidikan di Indonesia yakni munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah), dan penyelenggaraan sekolah berasrama yang sering disebut dengan Boarding School. Sesungguhnya term Boarding School bukan sesuatu yang baru dalam konteks pendidikan di Indonesia. Karena sudah sejak lama lembaga pendidikan di Indonesia menghadirkan konsep pendidikan Boarding School yang di beri nama “pondok pesantren”. Pondok pesantren ini adalah awal mula dari adanya Boarding School di Indonesia.Pendidikan pondok pesantren atau pendidikan kepesantrenan (Boarding School) adalah sebutan bagi sebuah lembaga yang didalamnya terjadi kegiatan pendidikan yang melibatkan peserta didik dan pendidik, serta memungkinkan untuk berinteraksi dalam waktu 24 jam setiap harinya. Pendidikan kepesantrenan (Boarding School) lebih dikenal di indonesia dengan nama pondok pesantren (Michailhuda, 2010). Banyak keunggulan yang terdapat dalam sistem pemondokan atau boarding school ini. Dengan sistem mondok, seorang siswa atau santri tidak hanya belajar secara kognitif, melainkan juga afektif dan psikomotor. Tujuan pembelajaran afektif yaitu mencerdaskan daya pikir siswa untuk pengembangan intelektual. Sementara menghadapi era modern seperti sekarang ini, otak siswa tidak lagi cukup dengan dipenuhi ilmu pengetahuan, melainkan perlu keterampilan dan kecerdasan berhati nurani. Sebab, pada kenyataannya, dalam menghadapi kehidupan, manusia menyelesaikan masalah tidak cukup dengan kecerdasan intelektual, melainkan perlu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kenyataannya, mengajarkan kecerdasan emosional dan spiritual tidak cukup dilakukan secara kognitif, sebagaimana mengajarkan kecerdasan intelektual. Dalam hal ini diperlukan proses internalisasi dari berbagai pengertian yang ada dalam rasio ke dalam hati sanubari.Salah satu cara terbaik mengajarkan dunia afektif adalah pemberian teladan dan contoh dari para pemimpin dan orang-orang yang berpengaruh di sekitar anak. Dengan mengasramakan anak didik sepanjang 24 jam, anak didik tidak hanya mendapatkan pelajaran secara kognitif, melainkan dapat menyaksikan langsung bagaimana perilaku ustadz/ustadzah, guru, dan orang-orang yang mengajarkan mereka. Para siswa bisa menyaksikan langsung, bahkan mengikuti imam, bagaimana cara salat yang khusuk, misalnya. Ini sangat berbeda dengan pelajaran salat, misalnya, yang terkadang tanpa disertai contoh dan pengalaman makmum kepada imam yang salatnya khusuk.
Di samping itu, dengan sistem boarding school, para pimpinan pesantren dapat melatih psikomotorik anak agar lebih optimal. Dengan otoritas dan wibawa yang dimiliki, para guru mampu mengoptimalkan psikomotorik siswa, baik sekadar mempraktikkan berbagai mata pelajaran dalam bentuk gerakan-gerakan motorik kasar maupun motorik lembut, maupun berbagai gerakan demi kesehatan jiwa dan psikis anak.
Kelebihan-kelebihan yang lain adalah sistem boarding lebih menekankan pendidikan kemandirian. Berusaha menghindari dikotomi keilmuan (ilmu agama dan ilmu umum). Dengan pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum diharapkan akan membentuk kepribadian yang utuh bagi setiap siswanya. Pelayanan pendidikan dan bimbingan dengan sistem boarding school yang diupayakan selama 24 jam, akan diperoleh penjadwalan pembelajaran yang lebih leluasa dan menyeluruh, segala aktifitas siswa akan senantiasa terbimbing, kedekatan antara guru dengan siswa selalu terjaga, masalah kesiswaan akan selalu diketahui dan segera terselesaikan, prinsip keteladanan guru akan senantiasa diterapkan karena murid mengetahui adanya aktifitas guru selama 24 jam. Pembinaan mental siswa secara khusus mudah dilaksanakan, ucapan, perilaku dan sikap siswa akan senantiasa terpantau, tradisi positif para siswa dapat terseleksi secara wajar, terciptanya nilai-nilai kebersamaan dalam komunitas siswa, komitmen komunitas siswa terhadap tradisi yang positif dapat tumbuh secara leluasa, para siswa dan guru-gurunya dapat saling berwasiat mengenai kesabaran, kebenaran, kasih sayang, dan penanaman nilai-nilai kejujuran, toleransi, tanggungjawab, kepatuhan dan kemandirian dapat terus-menerus diamati dan dipantau oleh para guru/ pembimbing serta semua elemen yang ada dalam komplek sekolah, terlibat dalam proses pendidikan. Pada dasarnya, semua orang dewasa yang ada di Boarding School adalah guru.
Disamping itu, sekolah berasrama mampu menampung siswa dari berbagai latar belakang yang tingkat heteroginitasnya tinggi. Siswa berasal dari berbagai daerah yang mempunyai latar belakang sosial, budaya, tingkat kecerdasan, kemampuan akademik yang sangat beragam. Kondisi ini sangat kondusif untuk membangun wawasan national dan siswa terbiasa berinteraksi dengan teman-temannya yang berbeda sehingga sangat baik bagi anak untuk melatih dan menghargai pluralitas (keragaman).
Sekolah berasrama juga berupaya secara total untuk menjaga keamanan siswasiswinya. Tata tertib dibuat lengkap dengan sanksi bagi pelanggarnya. Daftar “dosa” dilist sedemikan rupa dari dosa kecil, menengah sampai berat. Selain itu, jaminan keamanan diberikan oleh sekolah berasrama, mulai dari jaminan kesehatan (tidak terkena penyakit menular), tidak narkoba, terhindar dari pergaulan bebas, dan jaminan keamanan fisik (tawuran dan perpeloncoan/bullying), serta jaminan pengaruh kejahatan dunia maya.
Secara singkat, apabila sebuah sekolah berasrama benar-benar memiliki program yang komprehensif-holistik, fasilitas yang lengkap, guru yang berkualitas, dan lingkungan yang kondusif dan terkontrol, akan lebih dapat memberikan jaminan kualitas jika dibandingkan dengan sekolah konvensional. Dalam sekolah berasrama, pintar tidak pintarnya anak, baik dan tidak baiknya anak sangat tergantung pada sekolah karena 24 jam anak bersama sekolah. Hampir dapat dipastikan tidak ada variable lain yang “mengintervensi” perkembangan pendidikan anak, seperti pada sekolah konvensional yang masih dibantu oleh lembaga bimbingan belajar, lembaga kursus dan lain-lain. Sekolah-sekolah berasrama dapat melakukan treatment individual, sehingga setiap siswa dapat melejitkan bakat dan potensi individunya (Abd A’la, 2006:49).
Akan tetapi, kondisi Boarding School di Indonesiatidak sepenuhnya mendapatkan poin seratus, hal tersebut dikarenakan sampai saat ini sekolah-sekolah berasrama masih banyak memiliki persoalan yang belum dapat diatasi sehingga banyak sekolah berasrama layu sebelum berkembang. Adapun faktor-faktornya adalah sebagai berikut:
1. Ideologi Boarding School yang Tidak JelasTerm ideology digunakan untuk menjelaskan tipologi atau corak sekolah berasrama, apakah religius, nasionalis, atau nasionalis-religius. Yang mengambil corak religius sangat beragam dari yang fundamentalis, moderat sampai liberal. Masalahnya dalam implementasi ideologinya, terlalu banyak improvisasi yang bias dan keluar dari pakem atau frameideology tersebut. Hal itu juga serupa dengan yang nasionalis, tidak mengadop pola-pola pendidikan kedisiplinan militer secara kaffah, akibatnya terdapat kekerasan dalam sekolah berasrama. Sementara yang nasionalis-religius dalam praktik sekolah berasrama masih belum jelas formatnya.
2. Dikotomi guru sekolah versus guru asrama (pengasuhan)Sampai saat ini sekolah berasrama kesulitan mencari guru yang cocok untuk sekolah berasrama. Sekolah-sekolah tinggi keguruan (IKIP dan Mantan IKIP) tidak “memproduksi” guru-guru sekolah berasrama. Akibatnya, masing-masing sekolah mendidik guru asramanya sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Guru sekolah (mata pelajaran) bertugas hanya untuk mengampu mata pelajarannya, sementara guru pengasuhan adalah tersendiri hanya bicara soal pengasuhan. Padahal idealnya, dua kompetensi tersebut harus melekat dalam sekolah berasrama. Ini penting untuk tidak terjadinya saling menyalahkan dalam proses pendidikan antara guru sekolah dengan guru asrama.
3. Kurikulum Pengasuhan yang Tidak BakuSalah satu yang membedakan sekolah-sekolah berasrama adalah kurikulum pengasuhannya. Kalau bicara kurikulum akademiknya dapat dipastikan hampir sedikit perbedaannya. Semuanya mengacu kepada kurikulum KTSP-nya produk Depdiknas dengan ditambah pengayaan atau suplemen kurikulum international dan muatan lokal. Tapi kalau bicara tentang pola pengasuhan sangat beragam, dari yang sangat militer (disiplin habis) sampai ada yang terlalu lunak. Kedua-duanya mempunyai efek negative. Pola militer melahirkan siswa yang berwatak kemiliter-militeran dan terlalu lunak menimbulkan watak licik yang bisa mengantar siswa mempermainkan peraturan.
4. Sekolah dan Asrama Terletak Dalam Satu LokasiUmumnya sekolah-sekolah berasrama berada dalam satu lokasi dan dalam jarak yang sangat dekat. Kondisi ini yang telah banyak berkontribusi dalam menciptakan kejenuhan anak berada di sekolah Asrama.
Singkatnya, lembaga pendidikan boarding school merupakan lembaga pendidikan yang memadukan sistem pendidikan pesantren dan sekolah sehingga dapat dijadikan solusi bagi para orang tua yang menginginkan anaknya dapat memahami pengetahuan bukan hanya pada pengetahuan umum tetapi juga pengetahuan agama. Boarding school adalah salah satu dari model pendidikan terpadu, yang menekankan pada output yang berakhlakul karimah. Dengan adanya boarding school, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh,di antaranya : bagi orang tua yang keduanya sibuk bekerja adalah suatu nilai lebih tersendiri karena anak telah tertangani oleh para praktisi pendidikan, dalam penanaman kedisiplinan, juga terhindar dari pengaruh buruk media maupun lingkungan masyarakat yang cenderung merusak. Kemudian, bagi siswa, kemungkinan besar lebih terkondisi oleh lingkungan sekolah melalui pembinaan akhlaq dari para tenaga pendidik sepanjang waktu terutama pada waktu shalat, menjelang istirahat, dan selesai fajar. Di waktu itulah siswa mengenal hakikat kehidupan lewat pendekatan para pengasuhnya. Disamping itu, siswa juga lebih terjaga dari efek buruk lingkungan diluar pesantren/sekolah, seperti tawuran pelajar, kebut-kebutan di jalan raya dan sebagainya. Lingkungan pesantren lebih steril dari berbagai hal negatif, terutama diwaktu-waktu senggang karenaadanya pengawasan sepanjang hari melalui para ustadz/ustadzah yang senantiasa mensosialisasikan kehidupan yang Islami, sehingga akan lebih efektif dalam pendidikan karakter bagi siswa.
Jadi, sekolah berasrama adalah salah satu alternatif bagi para orang tua dalam rangka pendidikan berkarakter. Pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau factor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang sehingga meningkatkan kualitas SDMyang optimal bagi bangsa dan negara. Oleh sebab itu dukungan fasilitas terbaik, tenaga pengajar berkualitas, dan lingkungan yang kondusif harus didorong untuk dapat mencapai cita-cita tersebut.

POS UAMBN MTs&MA, POS UN SMP/MTs & SMA/MA Tapel 2013-2014 dan Permendikbud Nomor 97 Tahun 2013

Untuk mendownload silakan klik link dibawah :
Untuk mendownload KISI-KISI UAMBN PAI DAN BAHASA ARAB TAPEL 2013/2014 silakan klikdisini

Prosedur Pendirian SAKOMA Ma’arif NU Trenggalek Tahun 2014


Diberitahukan kepada semua lembaga binaan LP Ma’arif NU Cabang Trenggalek, bahwa dalam rangka ikut mensukseskan pembinaan pada anggota Gerakan Pramuka dan implementasi Kurikulum 2013 sesuai amanat Permendikbud Nomor 81 A Lampiran III, maka Team Formatur Pendirian Satuan Komunitas (SAKO) Pramuka Ma’arif Cabang Trenggalek menginstruksikan kepada semua lembaga mulai SD/MI, MTs/SMP, SMA/MA/SMK  untuk mengajukan pendirian Gugus Depan SAKOMA kepada Kwartir Cabang Trenggalek mulai surat ini dikirim sampai dengan 28 Pebruari 2014.
Upacara pengukuhan akan dilaksanakan pada bulan Rajab, bersamaan dengan Harlah NU. (waktu menyusul)
Berikut materi pokok sebagai bahan kajian awal:
1. Presentasi Sosialisasi klik DOWNLOAD
2. SK Ketua Formatur Pendirian SAKOMA klik DOWNLOAD
3. Surat Kerjasama dengan Kwarcab Trenggalek  klik DOWNLOAD
4. Contoh Surat Pengajuan Pendirian SAKOMA bagi Lembaga yang Belum Memiliki Nomor GUDEP  klik DOWNLOAD
5. Contoh Surat Pengajuan Revisi Status SAKOMA bagi Lembaga yang sudah Memiliki Nomor GUDEP  klik DOWNLOAD
JADWAL BISA BERUBAH SESUAI SIKON LAPANGAN.
UNTUK KOORDINASI SILAKAN BERGABUNG DALAM SAKOMA TRENGGALEK :
FACEBOOK  : https://www.facebook.com/groups/216153438573614/?fref=ts
BLOG  : http://sakomatrenggalek.blogspot.com/

 
by | Team IT Center |